Antara sistem kerja dan budaya kerja

Lebih penting mana antara sistem kerja dan budaya kerja, dalam hal ini budaya diartikan sebagai orang pelaku kerja
dan sistem kerja diartikan sebagai peraturan maupun etika kerja, yg dihubungankan dengan disiplin pegawai...???

Sebuah pertanyaan yg mungkin akan menjadi suatu "debat kusir" apabila dijawab dengan tanpa dasar alasan yg tepat.
Untuk itu, di obrolan www.warungkopiplus.blogspot kali ini mencoba mengangkatnya dengan sebuah contoh kasus.
Sebuah contoh kasus, yg bersumber dari cerita seorang kawan yg berkerja pada sebuah NG0 di Banda Aceh (GTZ-Bidang Pendidikan). Kurang lebih sebagai berikut:
Ada sebuah kasus pemecatan pada seorang karyawan, yg bertugas sebagai kepala bendahara (bukan karyawan rendahan).
Kawan saya bercerita, bahwa alasan pemecatannya adalah karena yg bersangkutan dengan tanpa izin ikut dalam rombongan penyerahan dana disebuah kabupaten di NAD. Pada dasarnya, yg bersangkutan memang tidak berhak untuk ikup pergi, karena tugas yg bersangkutan memang hanya di kantor.
Pada saat pergi, Bos dikantor tersebut mencari yg bersangkutan (karena ada perlu). Pada saat itu pula, Bos langsung marah2 dan langsung kirim fax ke kantor Pusat di Jakarta, dan sejam kemudian langsung turun surat pemecatan terhadap yg bersangkutan.
Sebuah kasus yg cukup memprihatinkan, tp begitulah aturannya...
Sebagai pembelajaran tegas bagi karyawan2 lainnya.
Untuk mengambil kesimpulan jawaban, Perlu Diketahui:
1. Berdasarkan cerita dan pengalaman penulis, orang Aceh memiliki budaya yg malas. (pembaca boleh protes kalo ta setuju, tapi itulah kenyataannya)
2. Selama di Banda Aceh, NGO ini telah memecat beberapa karyawan yg nakal dan tidak disiplin.
3. Karyawan yg sampai sekarang bertahan di NGO ini, dapat dianggap sebagai orang "disiplin" dalam arti masih di pake di NGO ini.
4. Walaupun banyak yg telah dipecat, ternyata masi banyak pula peminat yg ingin menjadi karyawan di NGO ini.

..., trus bagaimana jawaban anda dengan pertanyaan diatas?
Ternyata budaya malas dan tidak disiplin dapat diatasi dengan sistem dan tindakan yg jelas, cepat dan tepat.
Berdasar cerita diatas, Bagaimana cara mengatasi Pegawai Negeri Sipil yg kondisinya seperti saat ini???

2 comments:

  1. yah kalo ngikutin cara NGO barangkali lebih banyak meja kosong di kantor dinas ya mas.....
    ato ga juga ya malah jadi ketakutan dipecat tapi lebih banyak gelas kopi, tumpukan koran, n puntung rokok kali yaaaa....

    ReplyDelete
  2. Sepertinya kalo kita lihat trend jumlah pelamar cpns dari tahun ke tahun tidak pernah turun tuh..., malah kalo kita mau amati, dulu masuk pns cuman 30an jt dan sekarang orang tua berani masukin anaknya dengan 150jt.
    Hebatkan???, dah capek2 bayar, gaji ga seberapa, belum ada setahun bekerja dah dipecat!!!
    ...akhirnya kita tinggal nunggu kejayaan "MERAH PUTIH"., karena aparatur yang jelek2 dah habis diganti dg yg baik2.
    Gmn P'Dokter UGD???

    ReplyDelete