Harga bensin turun jadi Rp 5.000, solar Rp 4.500...

Berlaku mulai 15 Desember 2008, asik dong..., tapi...
Mari kita lihat bersama:

Pertama:
Ketika harga bensin naik, apa akibatnya???
Kita semua
tahu, pemerintah baru saja mau mengumumkan kenaikan harga minyak (isu), para pedagang barang dan jasa sudah mulai panik dan langsung menaikkan harga barang dagangannya.
Alasan mereka adalah, karena harga minyak mau naik, mereka takut harga dasar barang2 ikut naik juga. Sehingga mereka takut kalau har
ga jual tidak dinaikkan nantinya mereka tidak sanggup untuk membeli harga dasar barang. (walaupun barang dagangannya tidak terkait dengan minyak).
Ketika
harga minyak benar2 naik., apa akibatnya?, harga barang dan jasa ikutan naik untuk yg kedua kalinya...
Lengkap sudah penderitaan kita, satu kali kenaikan harga minyak berarti dua kali kenaikan harga barang dan jasa.

Kedua:

Ketika harga minyak turun..., apa akibatnya?
Kita semua senang dan bersyukur..., (karena dlm sejarah Indonesia, baru kali ini harga minyak turun). Semoga SBY terpilih lagi...
Tetapi mari kita cermati, rasa senang kita ternyata tidak dapat "menghibur" penderitaan kita di kala harga minyak naik.
Kenapa???, karena harga barang dan jasa tidak pernah mau ikutan turun..., (sepertinya SBY perlu mencari terobosan baru untuk masalah ini).

Berdasarkan ke dua opini dari permasalahan diatas, saya ingin mengajak pembaca untuk ikutan berpikir...
1. Bagaimana seandainya harga minyak tidak usah diturunkan, dan uang surplusnya kita "korupsi" bersama2 untuk membangun Negeri ini?
Alasannya:
- Dengan harga bensin Rp 6.000, pemerintah masih mensubsidi harga sekitar 35%. Jelas, berapa uang negara yg setiap hari kita bakar rame2...
(sekitar Rp 2.000 X jumlah kendaraan X rata rata pemakain per hari per kendaraan)
- Dengan turunya harga minyak, penderitaan kita ternyata tidak ikutan berkurang. Pertama, karena harga barang dan jasa tidak ikut turun. Kedua, kita sudah terbiasa dengan kondisi harga sebelumnya, terbukti dengan naik atau turunnya harga minyak, pom bensin tetap aja tidak bertambah rame atau antri. Org hanya akan membeli sesuai dg kebutuhannya.
- Bayangkan, kalo harga tidak diturunkan dan dana (selisih turunnya harga) tersebut dikirimkan ke setiap daerah sejumlah sesuai dengan rata rata (per liter per hari per daerah), apa yg akan terjadi???, kota kita akan bertambah dana untuk membangun.
- CATATAN: Dengan harga minyak Rp 6.000, pertumbuhan ekonomi kita masi plus 2-4 persen. Sehingga masih ideal dan bayangkan kalo dana pengganti turunnya harga minyak kita tambahkan untuk mensuport pertumbuhan ekonomi kita??? (misalnya mensuport pabrik pupuk, sehingga pupuk bisa tersedia dan murah / bukan gratis!!!)

2 comments:

  1. loe jago banget kalo soal itung2an yat....
    kalo rupiah diganti dinar gimana yat?

    ReplyDelete
  2. Indonesia bukan salah di Rupiahnya..., walaupun dah diganti dg Dolar maupun Euro.

    ReplyDelete