Allah itu sesuai persangkaan hambanya

Sebuah cerita untuk renungan, ambil hikmah dan tak perlu komentar benar atau salah..., sesuai dengan keyakinan masing masing.
Tulisan diambil dari tempointeraktif.com, dengan judul asli "Doa Tukang Rias" penulis Burhan Sholihin, Wartawan Tempo.
....
Perempuan itu memasuki pintu satu Masjidil Haram dengan segudang kecemasan. Sepuluh langkah menjelang pintu King Abdul Azis, was-wasnya memuncak. Wajahnya yang dibalut bedak tebal mulai memucat. Ia menarik tangan temannya.

"Sebentar, Pak..," kata Sumiyati itu tiba-tiba sembari menghentikan langkahnya. Dia menarik tangan Salamun, Ketua Regu Bimbingan Haji Kedungguwo, desa miskin dan tandus di kaki Gunung Lawu, Magetan, Jawa Timur. "Boleh nggak bawa ini ke Masjidil Haram? Asykar-asykar (polisi) perempuan kan galak-galak. Mereka selalu memeriksa tas-tas jemaah haji."

"Bawa apa sih? Al Quran? Kok tas tentengannya berat banget," Salamun penasaran. Sumiyati menunjukkan tasnya. "Masya Allah!," Salamun berseru kaget. Jantungnya hampir copot melihat tas Sumiyati yang penuh dengan botol-botol riasan wajah. Ada bedak warna-warni, selusin pemerah bibir, perona pipi, penghitam alis, dan pelentik bulu mata.

"Ibu mau tawaf apa mau merias pengantin?" Salamun keheranan. "Ini mau saya bawa berdoa di Multazam, di depan Kabah, antara Hajar Aswad dan pintu Kabah. Katanya di sana doa gampang terkabul," ujar Sumiyati. "Boleh, kan Pak?," Sumiyati memasang wajah paling memelas se-Bekasi.

Salamun bingung. Dia bukan ustad, apalagi pembimbing haji. Dia juga tak punya secuil pengalaman berhaji. Salamun cuma santri ndeso yang disuruh naik haji oleh mertuanya. Salamun celingukan mencari kiai pembimbingnya. Tapi lelaki berjenggot putih itu sudah melangkah masuk.

"Sudah Bu, bismillah saja, mudah-mudahan lolos," Salamun berusaha meredakan kecemasan. "Kalau mau aman lagi, bacakan shumun, bukmun, 'umyun, fahum layarji'un (semoga mereka buta, tuli, bisu, ini doa pengusir anjing galak).

Sumiyati manggut-manggut. Dia pun mengusir kecemasannya dengan komat-kamit membaca doa itu.

Sejurus kemudian Sumiyati lolos dari pemeriksaan asykar galak. Pagi itu dia juga berhasil berdoa di Multazam dengan aneka bedaknya. Di sana pemilik salon "Dara", itu menangis dan memanjatkan doa yang sudah dia rancang dua bulan lalu di kampung sebelum ke Tanah Suci.

"Ya Allah lariskanlah salonku. Jangan biarkan salon depan kompleks rumah mengambil pelangganku. Bila salonku laris, saya berjanji akan rajin bersedekah. Allahumma amin"

Sumiyati berdoa di tengah himpitan orang-orang Nigeria bertubuh raksasa. Kakinya terinjak. Perutnya ke sodok.Tapi Sumiyati berusaha khusyuk berdoa dengan satu tas peralatan rias di dekapanya.

Salamun yang mengantarkan Sumiyati ke depan Kabah ingin mesem mendengar doa itu. Tapi, dia terlalu sibuk menahan desakan dari orang-orang yang hendak ke Multazam atau mencium Hajar Aswad. Dia pun buru-buru menarik Sumiyati menyingkir dari gelombang manusia.

Sorenya, Salamun masih diliputi segudang rasa penasaran. Dia pun menemui ustadnya. "Apa agar doa terkabul harus membawa peralatan seperti Sumiyati?," tanyanya.

Ustad Wagimun tersenyum. "Allah itu sesuai persangkaan hambanya. Dia bersama orang yang mengingat-Nya." Ustad Wagimun dengan fasih mengutip hadits dari Imam Bukhari. Meski kiai kampung, mandi dan wudlu di kolam berair hijau penuh lumut, ilmu ustad Wagimun ini boleh juga, begitu pikir Salamun.

"Tukang rias, tukang sapi, koruptor boleh berdoa agar laris dan kaya di depan Kabah,," katanya . "Sampeyan minta kekayaan," kata Wagimun melanjutkan nasehatnya, "Allah akan memberinya seperti Karun yang terkenal dengan harta karun." Yang minta pangkat juga diberi pangkat.

"Tapi yang paling baik adalah doa sapujagat: robbana atina fi dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah....." "Itu doa agar selamat dunia dan akhirat."

Salamun manggut-manggut. Di kepala peternak sapi itu menari-nari sejumlah pertanyaan: "Bagaimana ya caranya membawa sapi-sapinya ke depan Kabah?

No comments:

Post a Comment