Untung-Rugi Liberalisasi Ekonomi

Liberalisasi ekonomi sudah sejak lama menjadi bahan diskusi di kalangan ekonom Indonesia. Akhir-akhir ini, isu tersebut memanas karena dikaitkan dengan pemilu presiden dan wakil presiden. Tak hanya di koran, televisi, atau radio isu tersebut ramai dibahas. Di kampus UGM pun diskusi terkait liberalisasi ataupun paham neoliberal banyak muncul. Banyak masyarakat kita, terutama yang berpendidikan, rupanya, menyadari arti penting dan konsekuensi liberalisasi ekonomi. Apalagi, kesepakatan liberalisasi pasar yang diikuti Indonesia terus diperluas. Mulai Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), AFTA, APEC, ASEAN+3 (Korea, Jepang, dan Tiongkok), ASEAN+6 (+3 tambah India, Australia, dan Selandia Baru), hingga IJEPA dengan Jepang.

Belakangan, ada pula kesepakatan baru antara ASEAN plus Korea pada 2 Juni 2009 di Jeju, Korea Selatan. Apa pun bentuknya, yang jelas liberalisasi pasar lewat kerja sama ekonomi ataupun berbagai perdagangan bebas (free trade area/FTA) yang melibatkan Indonesia semakin banyak. Tentu saja, pertanyaan yang menarik adalah apakah liberalisasi pasar tersebut memberikan manfaat bagi Indonesia, khususnya masyarakat kita? Faktanya, hidup kita semakin terbelenggu oleh gelombang liberalisasi ataupun perdagangan bebas. Negara sosialis seperti Tiongkok atau Vietnam pun ikut terseret gelombang pasar bebas.

Bagus, tapi Tidak Cocok

Neoliberalisme atau paham liberal baru merupakan modifikasi dari liberal tradisional. Liberalisme mempunyai ciri pokok mendewakan kapitalisme (pasar bebas) dan hak-hak individu. Ekonomi liberal berawal dari gagasan Adam Smith yang menyatakan bahwa pasar bebas adalah jalan terbaik bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Gagasan itu memicu free enterprise dan free competition yang dapat diartikan sebagai kebebasan bagi kapitalis untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya. Ekonomi liberal mulai berkembang di Amerika dan banyak negara Eropa pada 1800 hingga awal 1900. Ketika terjadi depresi besar (great depression) pada 1930, paham ekonomi liberal mulai ditinggalkan.

Banyak negara mengikuti anjuran John Maynard Keynes yang menyatakan bahwa pemerintah dan bank sentral harus turut campur dalam perekonomian agar tercapai kesempatan kerja penuh atau full employment. Namun, kaum kapitalis terinspirasi untuk ''menghidupkan kembali'' ekonomi liberal. Gara-garanya, intervensi pemerintah dalam perekonomian mengurangi profit yang diterima kapitalis. Inilah yang dinyatakan sebagai ''new'' atau ''neo'' liberal dan diterapkan di banyak negara hingga sekarang.

Adapun prinsip utama ekonomi neoliberal adalah free market dan free trade. Poin-poin penting dari ekonomi neoliberal yang sering dikaitkan dengan Washington Consensus adalah liberalisasi pasar, meningkatkan FDI (investasi langsung), privatisasi, deregulasi, disiplin fiskal, dan tax reform (meningkatkan penerimaan negara melalui peningkatan basis pajak). Kemudian, subsidi pemerintah agar tepat sasaran (untuk pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur), liberalisasi suku bunga, kurs yang kompetitif, dan penghargaan pada property right.

Pada saat itu (1989), John Williamson percaya bahwa resep tersebut dapat membangunkan Amerika Latin dari krisis ekonomi dan keuangan. Namun, resep itu dipandang sebagai agenda dari kelompok neoliberal yang ingin memaksakan kebijakan di negara berkembang dan banyak yang gagal. Suatu paket kebijakan yang tampak baik belum tentu cocok untuk semua negara. Paket kebijakan Washington Consensus mungkin bagus untuk negara seperti Singapura ataupun Hongkong dan Korea Selatan. Tapi, banyak negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, tidak cocok karena adanya karakteristik khusus.

Demikian pula, banyak negara sedang berkembang lainnya belum siap dan tidak cocok dengan paket tersebut. Penerapan paket itu tanpa melihat karakteristik masing-masing negara justru menyejahterakan perusahaan-perusahaan besar (khususnya asing). Sebaliknya, kalangan pekerja, masyarakat pedesaan, golongan menengah, dan perusahaan kecil tambah miskin. Kelompok-kelompok yang tidak siap dengan liberalisasi pasar tergeser dan menghadapi persaingan yang semakin berat. Diduga, hal itu menjadi salah satu penyebab deindustrialisasi (pertumbuhan sektor industri semakin rendah sehingga pangsa pasar, output, dan tenaga kerja menurun).

Akibatnya, yang berkembang adalah ekonomi informal atau usaha mikro (menguasasi lebih dari 47 juta di antara 49 juta usaha di Indonesia). Karena itu, kita harus berhati-hati dalam meliberalisasikan ekonomi (menerapkan Washington Consensus).

Daya Saing-SDM Harus Siap

Liberalisasi pasar (ataupun menerapkan Washington Consensus) sebenarnya tidak buruk. Itu kalau kita siap seperti Singapura ataupun Korea Selatan yang memiliki daya saing internasional dan kualitas SDM tinggi. Dengan begitu, dapat memanfaatkan liberalisasi pasar untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun, untuk negara yang daya saing internasional maupun kualitas SDM-nya rendah seperti Indonesia, apalagi kualitas pembangunan ekonomi semakin merosot, liberalisasi tanpa persiapan menimbulkan masalah besar.

Berdasar studi yang dilakukan Pusat Studi Asia Pasifik UGM (2005), ditemukan bahwa mayoritas pengusaha ataupun otoritas ekonomi di daerah tidak tahu apakah itu AFTA dan APEC (padahal, ada banyak kerja sama ekonomi lain), apalagi memanfaatkannya. Manfaat liberalisasi pasar lebih banyak dinikmati perusahaan asing atau perusahaan besar. Padahal, mayoritas masyarakat kita (lebih dari 90 persen) hidup dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya sektor informal. Karena itu, di masa mendatang perlu dilakukan evaluasi program liberalisasi ekonomi. Kalaupun liberalisasi dijalankan, itu harus selaras dengan peningkatan daya saing internasional dan SDM. Tujuannya, liberalisasi memberikan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. (*)

Jogjakarta, 6 Juni 2009

Sumber: Jawa Pos,
Senin, 08 Juni 2009

1 comment:

  1. Kalau sekiranya kita tetap konsisten dengan produk dalam negeri dan segera mungkin menumbuhkan kembangkan industri didalam negeri, apakah kita juga akan tergilas dengan pasar bebas tersebut ? Isme-isme itu bisa berkembang jika kita turut mengembangkannya dan bila tidak, tentunya iapun akan ngacir juga. Tul gak ?

    ReplyDelete