Sehari Bersama Massa Demo Bayaran

Ni... salah satu bukti kalo anda bisa juga membuat demo sesuai keinginan anda..., seperti dalam postingan warungkopiplus sebelumnya yang berjudul: "Demo Adalah Bentuk Pemaksaan Kehendak Pribadi" (diambil dari kisah wartawan Vivanews.com).
Tak semua orang yang mengikuti aksi hari antikorupsi Rabu 9 Desember 2009 terpanggil untuk menyuarakan semangat antikorupsi.
Diantara ribuan peserta, ada juga massa demo bayaran. Orang-orang ini 'terorganisir' secara profesional.
Seperti halnya massa yang berasal dari Jalan Tendean, kawasan Mampang. Umumnya mereka tidak tahu apa yang mereka perjuangkan kemarin. Namun mereka bertindak layaknya 'aktivis' antikorupsi.
Massa yang terdiri dari beberapa remaja ini tiba-tiba muncul dari sebuah gang di dekat stasiun pompa bensin milik perusahaan asing, Shell pada pukul 9. 30 WIB.
Mereka berkumpul di pinggir jalan dengan membawa pengeras suara (megaphone), seikat belahan bambu, satu bendel poster, dan spanduk sebagai perangkat aksi.
Tak berselang lama, sebuah metromini menghampiri mereka. Mereka pun naik dan berhenti di sebuah warteg, di samping pompa bensin Shell. Ternyata di sana sebagian massa sudah menunggu.
Sang koordinator, Surip segera mengecek kesiapan semua anggotanya. "Hitung dulu, sudah pas 35 atau belum," kata surip memerintah salah satu anggotanya.
Ternyata, setelah dihitung, jumlah anggotanya hanya 27 orang, kurang 8 orang dari jatah yang seharusnya, yakni 35 orang. Wartawan VIVAnews pun menawarkan diri untuk ikut dalam rombongan untuk menambah jumlah kuota itu.
Namun, mereka tak begitu saja menerima. "Nanti saja, kita cari orang di sini dulu. Kalau tetap kurang nanti kamu boleh ikut," kata Surip.
Tetapi, setelah beberapa saat ditunggu, kuota itu tidak terpenuhi, sehingga wartawan VIVAnews diperbolehkan ikut dalam rombongan.
Peserta masih saja kurang, Surip lalu mengambil beberapa orang pedagang asongan dan pengamen di kawasan lampu merah Mampang Prapatan.
Dalam perjalanan, di dalam metro mini, sang koordinator, Surip memberikan penjelasan pendek kepada anggotanya. "Kita akan berdemo di (Istana) Wapres. Memperingati hari korupsi dan soal Bank Century," jelasnya singkat.
Namun penjelasan sang koordinator tidak begitu dihiraukan anggotanya. Mereka malah asyik berbincang satu sama lain. Dalam salah satu pembicaraan, terungkap bahwa mereka mendapatkan bayaran. Namun, belum jelas berapa uang yang dijanjikan.
"Nanti saja setelah pulang minta kepada Surip," kata salah seorang dari mereka, ketika ditanya berapa bayaran yang akan diterima.
Kelompok Surip ternyata tidak sendirian dalam aksinya. Di depan Istana Wapres, mereka bergabung dengan massa dari kawasan Pasar Minggu dan elemen mahasiswa. Ketiga kelompok ini melakukan koordinasi untuk mempersiapkan aksi.
Terlihat, Surip berkumpul dengan beberapa pimpinan dari elemen mahasiswa dan pimpinan massa dari Pasar Minggu.
Disaat melakukan aksi di depan Istana Wapres, VIVAnews mencoba bertanya kembali kepada beberapa anggota aksi mengenai besaran bayaran yang mereka terima.
Salah satu peserta Dayat, dari Pasar Minggu mengaku mendapatkan bayaran Rp 20.000 dari sang koordinator.
"Lumayan 20 ribu. Tapi nanti dibayarnya setelah demo, waktu balik," kata Dayat yang sehari-hari menarik odong-odong.
Dayat dan beberapa temannya mengaku tidak tahu dan tidak mempedulikan isu dalam demonstrasi itu. Yang dia tahu, hanya sebatas arahan singkat dari koordinator.
"Yang saya tahu tentang korupsi. Itu aja," kata dia. "Yang penting ikut aja, dapat duit. Dari pada di rumah nggak dapat duit," tambah dia.
Dayat yang sempat diwawancarai wartawan sebuah stasiun TV 'gagal' unjuk diri sebagai aktivis antikorupsi.
Dia bahkan tidak tahu tokoh-tokoh seperti Boediono dan Sri Mulyani yang disebut-sebut dalam orasi, dua nama yang mereka demo.
"Kalau Pak Boediono tahu, Wapres. Kalau yang Sri, nggak ngerti saya," kata Dayat.
Tambahan:
Sayangnya ga diketahui, yang bayar si surip siapa...???, anda tau ???



Sumber: http://nasional.vivanews.com/news/read/112601-sehari_bersama_massa_demo_bayaran

No comments:

Post a Comment