Lumbung Padi di Indonesia

Adanya lumbung padi menunjukkan bahwa petani memiliki jumlah hasil panen padi yang relatif surplus. Dengan kata lain, petani membutuhkan lumbung padi untuk menyimpan kelebihan hasil panennya.

Mungkin petani pada jaman dahulu tidak mengenal sistem produksi yang baik, seperti sistem pengairan, pupuk organik dan non organik, model dan tata cara penanaman yang efektif, dan pemanfaatan lahan yang optimal, namun demikian buktinya para petani masih bisa surplus, minimal untuk memenuhi kebutuhan sendiri, kebutuhan keluarga dan masyarakat kampung disekitarnya.


Begitu kontrasnya kondisi tersebut dengan kondisi saat ini, dengan pesatnya kemajuan teknologi pertanian, akan tetapi hasil yang dihasilkan malah lebih rendah. Mungkin kita akan menjawab permasalahan ini dengan berkurangnya lahan pertanian dan bertambahnya jumlah penduduk yang pesat.

..., tetapi dengan blog ini saya menantang teman-teman yang memahami tentang "produksi pertanian" untuk menghitung dan membandingkan kondisi dan permasalahan pertanian pada jaman dulu dan sekarang secara proporsional:
Pertanian Jaman Dulu
Pembanding
Pertanian Jaman sekarang
Lebih sempit/ terbatas hanya pada lahan yang bisa ditanami secara langsung,

Tanpa adanya usaha membuka lahan hutan secara besar-besaran atau hanya sebatas kemampuan manusia dalam mengusahakan lahan pertanian (belum ada teknologi intensifikasi dan ekstensifikasi).
Walaupun pertani pada jaman dahulu berpindah-pindah, tanpa adanya teknologi, petani pada jaman dahulu relatif lebih sulit dalam merambah hutan menjadi lahan pertanian secara lebih luas (bandingkan dengan perambahan hutan pada saat ini).

Luas Lahan Pertanian (Produktif)
Relatif Lebih luas,

Walaupun alih fungsi lahan pertanian ke lahan permukiman juga luas, akan tetapi masih diimbangi dengan tingginya alih fungsi lahan Kehutanan menjadi Lahan Pertanian.

Penduduk/Konsumen lebih sedikit,

Namun demikian tidak ada indikasi yang menunjukkan kelaparan atau kekurangan bahan makanan, khususnya beras.
Petani mampu mencukupi kebutuhan makan penduduk secara mandiri, hal ini ditunjukkan dengan indikasi belum dikenalnya impor barang.

Jumlah Penduduk (Konsumen)
Penduduk/Konsumen relatif Lebih Banyak,

Kebutuhan akan hasil produksi pertanian harus dipenuhi dengan Impor beras/padi.
Belum ada teknologi yang lebih bagus dalam sistem pertanian (pengolahan dengan cara tradisional) dan lama masa tanam padi yang relatif lebih lama (bandingkan dengan masa tanam padi pada saat ini yang bisa panen 5 kali dalam dua tahun)

Teknologi Pertanian
Relatif memiliki teknologi yang lebih tinggi, seperti alat-alat pertanian (traktor dll), Pupuk organik dan non organik, bibit padi (mampu panen 5 kali dalam dua tahun), optimalisasi lahan  pertanian, dll
Relatif surplus, ditandai dengan banyaknya Lumbung-lumbung padi di berbagai daerah di Indonesia.
Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya petani sejak zaman dahulu sudah bisa surplus beras.
Hasil Pertanian Proporsional terhadap Jumlah Penduduk
Relatif minus, ditandai dengan semakin tidak adanya atau tidak berfungsinya lumbung-lumbung padi di berbagai daerah di Indonesia.
Hal ini membuktikan bahwa pada saat ini petani tidak bisa surplus beras, sehingga tidak memerlukan lumbung padi lagi.

Dari perbandingan sederhana diatas, maka dapat saya simpulkan bahwa pembangunan pertanian di Indonesia saat ini hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi penduduk, dan hal itupun tidak terpenuhi secara optimal (secara proporsional terhadap jumlah penduduk sebagai konsumen).

Anehnya..., kok ada yang bilang Indonesia bisa swasembada ya..., sedang impor beras masih terus berlangsung...???
Saya teringat dengan kata Dosen saya di MPKD UGM, Bpk. Soejoso (2010):
“Kita mengalami 2 (dua) kerugian, kalau kita melakukan kebijakan impor beras dari negara lain. Pertama, Kita rugi kehilangan “duit” sekian juta-juta; Kedua, Pertanian kita tidak akan berkembang akibatnya kita akan semakin tergantung dengan Impor Beras”
Maksudnya:
Tanah pertanian kita sebenarnya relatif luas, seandainya uang untuk impor beras kita gunakan untuk mengembangkan produksi pertanian kita sendiri, mungkin kita akan lebih mandiri dimasa mendatang dan tidak selalu tergantung dengan “impor beras” lagi.

Mau tau, berapa perbandingan “duit” untuk impor beras dengan “duit” untuk mengembangkan produksi pertanian kita...???
Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa (2010):
"Anggaran untuk pangan di APBN 2011 sekira Rp2 triliun, untuk beras sendiri sekitar Rp1 triliun (digunakan untuk mencukupi persedian beras dengan melakukan pembelian beras dari negara luar / impor beras). Jadi totalnya Rp3 triliun. Yang Rp2 triliun  akan kita gunakan untuk meningkatkan ketahanan pangan," (http://economy.okezone.com/read/2010/10/18/20/383547/20/2011-anggaran-pangan-naik-jadi-rp3-triliun, diakses tanggal 14 Januari 2011)
Menurut Hatta Rajasa, yang menyangkut ketahan pangan adalah hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan produktifitas pangan mulai dari pembenihan, pupuk, peningkatkan pendapatan petani, kemudian juga hal-hal yang menyangkut diversifikasi pangan.



Berikut gambar-gambar foto Lumbung-Lumbung Padi di berbagai daerah di Indonesia, yang saya dapatkan dari situs:




Lumbung padi khas Ende, NTT

Lumbung Padi di Toraja
Lumbung padi di Sukabumi
Lumbung padi di Kutai Timur
Lumbung Padi di Kampung Naga, Tasikmalaya
Lumbung Padi di Desa Jatiluwih, Bali
Lumbung Padi Dayak Kenyah Malong
Lumbung padi di desa Ballapeu, Kec Balla, Mamasa, Sulbar

2 comments:

  1. SUDAHLAH, JANGAN MENGELUH !!!
    MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM
    KETIKA PANEN TIBA

    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia.
    NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita, dan sudah dilakukan sejak 1967 (masa awal orde baru) hingga sekarang.
    Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia mencapai swasembada beras dan kondisi ini stabil sampai dengan tahun 1990-an. Capaian produksi padi saat itu bisa 6 -- 8 ton/hektar.
    Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin rusak, semakin keras dan menjadi tidak subur lagi.
    Sawah-sawah kita sejak 1990 hingga sekarang telah mengalami penurunan produksi yang sangat luar biasa dan hasil akhir yang tercatat rata-rata nasional hanya tinggal 3, 8 ton/hektar (statistik nasional 2010).

    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.

    System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh pemerintah (SBY) beberapa tahun yang lalu adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas, serta harga produk juga jauh lebih baik. Tetapi sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena pada umumnya petani kita beranggapan dan beralasan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya.

    Selain itu petani kita sudah terbiasa dan terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.

    Kami tawarkan solusi yang lebih praktis yang perlu dipertimbangkan dan sangat mungkin untuk dapat diterima oleh masyarakat petani kita untuk dicoba, yaitu:

    "BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK AJAIB SO/AVRON/NASA + EFFECTIVE MICROORGANISME 16 PLUS (EM16+), DENGAN SISTEM JAJAR LEGOWO".

    Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki pada pola SRI, tetapi cara pengolahan tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.

    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.

    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI!!!! SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?

    CATATAN:
    Bagi Anda yang bukan petani, tetapi berkeinginan memakmurkan/mensejahterakan petani sekaligus ikut mengurangi tingkat pengangguran dan urbanisasi masyarakat pedesaan, dapat melakukan uji coba secara mandiri system pertanian organik ini pada lahan kecil terbatas di lokasi komunitas petani sebagai contoh (demplot) bagi masyarakat petani dengan tujuan bukan untuk Anda menjadi petani, melainkan untuk meraih tujuan yang lebih besar lagi, yaitu Anda menjadi agen sosial penyebaran informasi pengembangan system pertanian organik diseluruh wilayah Indonesia.

    Semoga Indonesia sehat yang dicanangkan pemerintah dapat segera tercapai.

    Terimakasih,

    Omyosa -- Jakarta Selatan
    02137878827; 081310104072

    ReplyDelete