Cara Meningkatkan Semangat Bekerja pada Pegawai Negeri Sipil

Tulisan ini saya buat, setelah saya membaca artikel dari saudara syarif yang berjudul “Mewujudkan Aparatur yang Profesional” di alamat (http://informasi-syarif.blogspot.com/2011/03/mewujudkan-aparatur-yang-profesional.html). Dari tulisan tersebut saya tergelitik dengan tulisan saudara Syarif khusunya pada paragraf terakhir, dan lebih khusus pada kalimat “...mengoptimalkan tugas pokok dan fungsi di masing-masing level jabatan.”. Tulisan ini juga merupakan pengembangan dari apa yang saya baca dari bukunya Osborne yang berjudul “Menswastakan Birokrasi”. Disini saya melihat bahwa Pegawai Negeri Sipil dapat di managemen seperti layaknya pegawai swasta yang profesional.

Melalui blog ini, saya menulis dengan judul “Cara Meningkatkan Semangat Bekerja pada Pegawai Negeri Sipil”. Menurut saya, semangat bekerja pegawai sangat berpengaruh besar terhadap optimal tidaknya suatu tugas dan fungsi seorang pegawai. Banyak faktor yang mempengaruhi semangat bekerja seseorang. Dalam hal ini saya mengambil contoh, mengapa setiap tanggal muda (misalnya tanggal satu) pegawai sangat bersemangat masuk kantor, atau mengapa setiap mendekati tanggal pembagian uang tunjangan pegawai, kantor menjadi ramai. Bahkan aura ruangan kantor terlihat berseri-seri karena penghuninya sedang gembira.

Kembali kepada topik semangat bekerja Pegawai Negeri Sipil, disini saya mengusulkan model atau cara dalam meningkatkan semangat bekerja tersebut. Langkah yang saya usulkan adalah sebagai berikut:
1.       Buat pembagian tugas yang jelas, sesuai dengan kemampuan pegawai. Hendaknya setiap pegawai memiliki satu atau dua tugas yang jelas/nyata dan tidak abstrak dan dapat di laksanakan dengan nyata juga.
2.       Umumkan kepada para pegawai, bahwa mulai tanggal “...”, setiap pegawai (tanpa kecuali – pegawai yang rajin dan andalan kantor) akan ditanya:
-        Pagi hari (sebelum absen pagi): “Apa yang akan anda kerjakan hari ini?”
-        Sore hari (sebelum absen sore): “Apa yang telah anda hasilkan hari ini?”
Catatan:
a)      Pada pagi hari, apabila pegawai tersebut tidak bisa menjawab tentang apa yang akan dikerjakannya pada hari itu, maka persilahkan pegawai tersebut untuk pulang, dan nasehatilah untuk berfikir mencarai pekerjaan untuk esok hari.
Logikanya, pegawai tersebut tidak punya tujuan dan motivasi untuk datang kekantor melainkan hanya sebuah rutinitas, dan sudah dapat dipastikan egawai tersebut hanya akan duduk dan ngopi dikantor, dan berpotensi untuk tidak melakukan tugas sama sekali pada hari itu. Untuk itu, lebih baik pegawai tersebut duduk di rumah dari pada merusak suasana kerja di kantor. (ingat: nila setitik akan merusak susu sebelanga)

b)      Pada sore hari, apabila pegawai tersebut tidak bisa menjawab tentang apa yang telah dikerjakannya pada hari itu, maka persilahkan pegawai tersebut untuk pulang tanpa absen sore. Karena secara logis, pegawai tersebut tidak melakukan kerja sama sekali pada hari itu, sehingga dapat dikatakan pegawai tersebut tidak bekerja dan sama dengan tidak masuk kantor.

3.       Laksanakan sesuai dengan tanggal yang telah ditetukan, dan terapkan kepada seluruh pegawai, tak terkecuali bagi seorang kepala bagian, atau “anak emas” di kantor tersebut. Sehingga dalam hal ini, kepala SKPD yang seharusnya menanyakan. Disini saya mengusulkan, bahwa yang menanyakan adalah Kepala SKPD, dan bukannya atasan langsung dari staf yang ditanya.
Hal ini mengingat, Kepala SKPD adalah orang yang paling disegani dan dihormati dan yang memiliki jiwa kepemimpinan yang tertinggi di SKPD tersebut. Sehingga dengan demikian akan menimbulkan dampak yang besar bagi para pegawai. Dalam hal ini, tentunya keteladanan seorang pemimpin menjadi kunci keberhasilan.

4.       Lihat dan amati perkembangannya selama bulan pertama, kedua dan ketiga, saya yakin pada bulan ketiga, semua pegawai akan datang dengan penuh semangat menjawab semua pertanyaan yang diajukan.
Mengapa?:
Pada bulan pertama, khsusunya minggu-minggu pertama, pegawai mungkin akan kesulitan menjawab pertanyaan karena mereka belum terbiasa dan belum siap untuk membiasakan diri dengan merencanakan pekerjaan yang akan dikerjakan besok hari. Sebagai konsekuensinya, jelas pada masa itu banyak pegawai yang diharuskan duduk dirumah dari pada duduk dikantor. Dampak lebih besarnya, mungkin kantor akan sepi. Namun jangan kuatir akan terkendalanya pekerjaan kantor nantinya, karena saya yakin seorang pegawai yang memiliki tugas rutin yang jelas dan terbiasa dengan pekerjaan pasti bisa menjawab dengan lancar pertanyaan anda. Sehingga pekerjaan rutin kantor tetap tidak akan terkendala.

Bagi pegawai yang tidak bisa menjawab, jelas mereka akan berfikir tentang tugas apa yang akan dikerjakannya esok hari (tentunya sambil minum kopi untuk mengusir kegelisahan). Berilah kesempatan kepada mereka untuk rileks dan mulai berfikir tentang rencana kerja, karena ketika mereka sudah mendapatkan rencana kerja esok hari, mereka akan datang kekantor dengan penuh semangat.
Malam hari staf pasti bingung mencari pekerjaan untuk dikerjakannya esok pagi, setelah dapat pasti dengan semangat mereka berangkat ke kantor setiap hari. Sekali lagi, bagi pegawai yang telah terbiasa bekerja keras, pasti tidak akan terpengaruh dengan model ini, karena kemungkinan mereka sudah bisa memanagemen tugas yang diembannya dengan baik. Artinya mereka telah dapat membagi tugas, mana yang dikerjakan sekarang dan mana yang dikerjakan besok hari dengan jelas.

Secara psikologi, sebuah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang secara rutin akan menimbulkan kebiasaan. Sehingga dengan asumsi, bahwa apabila kegiatan yang dilakukan tersebut merupakan kegiatan yang baik, maka akan menjadi kebiasaan yang baik pula.

Catatan tambahan:
Pada kenyataannya, walaupun model ini diterapkan, nantinya pasti ada pegawai yang benar-benar tidak ada tugas. Mungkin dengan alasan tugasnya sudah selesai dan tidak ada tugas lain sesuai dengan tugas yang telah dibagikan sebelumnya. Untuk kasus seperti ini, dapat dibicarakan lebih lanjut dengan Kepala SKPD mengenai tugas apa yang masih kurang dan terlambat dari targetnya.
Seharusnya model ini dibarengi dengan adanya reward dan punishment bagi  para pegawai sesuai dengan perilaku absen dan hasil kerjanya. Bedakan reward bagi pegawai yang jumlah absennya penuh dengan pegawai yang absesnnya tidak penuh. Dalam hal ini saya menggunakan tolok ukur absen karena pegawai yang dapat melakukan absen adalah pegawai yang “bekerja”. Reward juga harus dibedakan antara pegawai yang mampu menghasilkan  pekerjaan lebih dari 100% atau yang kurang, karena mampu mambantu tugas pegawai lainnya.
Berilah bonus sebesar-besarnya dan seadil-adilnya, karena itu adalah jaminan motivasi terbesar, khususnya bagi pegawai yang sudah berumah tangga dan mengalami kondisi keterbatasan ekonomi keluarga.
Tulisan ini adalah murni dari ide saya pribadi, dan tentunya saya akan menunggu kritik dan saran dari pembaca tuisan ini. Akhirnya saya berdoa, semoga Pegawai Negeri Sipil di Indonesia semakin sejahtera..., amin.

No comments:

Post a Comment