Nasehat untuk teman-teman yang sudah >30th belum menikah

Orang tua jaman dulu seing bilang jangan pilih-pilih jodoh, nanti susah ketemunya...
Ternyata  hal itu bisa aku pahami sebagai nasehat yang bijak dan benar adanya, berikut beberapa alasanku:
-          Pertama, aku memiliki prinsip bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah yang terbaik dari Allah untuk kita.
Artinya, kalau kita menganggap sesuatu yang terjadi tersebut menyakitkan maka hal itu karena kita salah dalam melihat dan merasakannya. Yakinlah bahwa Allah Maha Tahu akan apa yang terjadi pada diri kita nantinya, dan berpikirlah positif terhadap Allah bahwa Allah tidak akan membiarkan hambanya yang cinta kepada-Nya hidup menderita begitu saja, sebaliknya Allah juga tidak tinggal diam / atau tidak menguji keimanan hambanya.
Kesimpulannya, belajarlah mencari setiap makna dari apapun yang telah Allah berikan kepada Kita, dan bersyukurlah akan nikmat dan karunia-Nya.


Ingatlah bahwa segala sesuatu yang baik menurut kita belum tentu itu yang terbaik menurut Allah untuk kita.  
Jadi mana yang akan anda pilih???, yang baik menurut kita atau yang baik menurut Allah???,
Kalau menurutku, jawabannya adalah yang terbaik menurut Allah dan terbaik juga menurut kita.
Lalu, bagaimana anda akan mengetahui bahwa hal itu terbaik menurut anda, sedang anda tidak mengetahui masa depan yang akan terjadi terhadap anda? Pertanyaan lebih sulit lagi, bagaimana anda mengetahui bahwa hal itu merupakan yang terbaik menurut Allah untuk kita, sedangkan anda sendiri tidak mengetahui Allah?

Hemmm..., mungkin sampai keliang lahat anda tidak akan mengetahui jawabannya...

Ketahuilah, bahwa itulah gunanya keimanan (keyakinan), dengan keimanan kita akan memiliki pegangan dan tidak akan bingung dalam menjalani kehidupan. Untuk itu aku berkeyakinan bahwa setiap yang aku jalani adalah atas sepengetahuan Allah, dan sedetikpun tidak akan terjadi tanpa kehendak Allah. Selanjutnya, aku juga berkeyakinan, bahwa Allah tidak akan pernah memberikan keburukan kepada hambanya, melainkan hambanya sendiri yang berbuat keburukan terhadap dirinya sendiri. Dengan berpegang dua keyakinan tersebut, maka aku berfikiran positif bahwa setiap yang aku alami adalah yang terbaik untukku menurut Allah, dan itu pasti yang terbaik juga untukku.

Pernahkan anda mendengar nasehat, bahwa semua pasti ada hikmahnya???, nah itulah ujung dari prinsip yang aku maksudkan.

-          Kedua, aku memiliki prinsip, bahwa wanita yang baik-baik adalah untuk laki-laki yang baik-baik, sebaliknya, laki-laki yang baik-baik adalah untuk wanita yang baik-baik.
Artinya, kalau anda merasa diri sudah baik, jangan ragu, anda pasti akan mendapatkan pasangan yang baik pula. Sebalikknya kalau anda merasa tidak baik, maka jangan berharap dan menuntut untuk mendapatkan pasangan yang baik (tapi tidak ada salahnya berdoa untuk  meminta, dan kalau dikasih yang baik, berarti anda sebenarnya orang baik, bukan gak baik seperti prasangkaan anda sendiri– bingung...???).

Bagaimana kita tahu bahwa kita orang baik atau orang yang tidak baik? Atau kira-kira ada enggak orang yang mau mengakui bahwa dia orang yang tidak baik?
Kita sering terjebak bahwa baik dan tidak baiknya seseorang sangat relatif terhadap pandangan orang lain terhadap diri kita, yang dilihat dari perilaku kita sehari hari dalam bermasyarakat. Mungkin hal tesebut ada benarnya, akan tetapi menurutku tidak mutlak, karena bagiku hanya Allah yang mengetahui hal ghaib, dan hati adalah ghaib.

Hemmm..., bingung ya???, untuk menambah kebingunan aku tambahin gambaran bahwa orang yang mengakui dirinya tidak baik, justri orang tersebut adalah orang yang baik. Mengapa?, karena setidaknya orang tersebut menyadari ketidakbaikannya, dan orang yang menyadari ketidakbaikannya pastilah bukan orang yang sombong dan orang tersebut kemungkinan memiliki potensi untuk tobat di kemudian hari.
Sebalikknya orang yang mengakui bahwa dirinya orang yang baik, maka orang tersebut memendam rasa sombong dan ria atas kebaikan dalam hatinya. Kemungkinan dia melakukan kebaikan karena ria atau ingin dipuji. Apakah orang seperti itu termasuk orang baik?

Kedua gambaran diatas berlawanan dengan sikap memandang diri secara positif untuk itu jangan anda pikirkan, cukup menjadi gambaran saja.
Selama kita berbuat baik terhadap orang tua, keluarga, masyarakat, mengikuti sunah dan Al-Quran, insyaallah kita tergolong orang yang baik.
Kemudian, berbuat baik itu seperti apa...???hemmm..., ntar tulisannya tambah melebar. Tetapi sebagai gambaran aku berikan prinsip, bahwa setiap kali kita sholat dan membaca Al Fatihah, kita selalu berdoa  meminta untuk ditunjukkan ke jalan yang lurus, yaitu jalan yang yang di ridhoi oleh-Nya. Untuk itu, tanyakan pada hati anda, rasakan setiap apa yang akan anda lakukan.

Kesimpulannya, apabila anda ingin mendapatkan pasangan yang baik, maka berbuatlah baik dan jadilah orang baik terlebih dulu, kemudian terimalah dengan ikhlas pasangan anda, siapapun dia itulah gambaran anda. Artinya, kalau pasangan anda ternyata bukan orang baik, berarti anda juga bukan orang yang baik. Sadarlah, bahwa Allah tidak mungkin salah dalam memilihkan pasangan untuk anda.


Kembali ke topik permasalahan, Apa hubungan dengan jangan pilih-pilih jodoh:
Begini, aku pernah diberi nasehat oleh teman. Waktu itu temanku bercerita, bahwa dia dulu berjanji pada dirinya sendiri bahwa diusia 30 dia harus menikah, ada atau tidak ada pacar harus menikah, entah dengan siapa aja, pokoknya menikah.
Alhamdulillah, hal itu aku terapkan, bedanya aku berjanji bahwa sebelum usia 30 aku harus menikah, dan alhamdulillah di usia 29 aku menikah.

Walaupun pada waktu itu aku memiliki beberapa pilihan, namun aku sama sekali tidak ragu dalam memilih. Aku sangat memegang prinsip pertama dan kedua, bagiku siapapun yang akan aku nikahi nantinya adalah jodohku dan itu pilihan yang terbaik dari Allah untukku dan masa depanku.

Berdasarkan nasehat patokan rencana menikah tersebut, maka sebelumnya anda harus menentukan terlebih dulu kapan rencana anda harus menikah, tepatnya diusia berapa anda harus menikah? (bukan kapan anda mau menikah, tetapi kapan harus menikah)
Setelah itu, gunakanlah nasehat dibawah ini:
Belajarlah menerima ‘tawaran menikah’ dengan terbuka dan ikhlas, dan yakinlah bahwa itu memang jodoh anda. Meskipun mungkin (dipandang) ‘kurang baik’, tentunya dengan batas kewajaran dan prinsip anda. Seandainya itu benar-benar terjadi, dan anda akan merendahkannya, maka lebih dulu sadarlah, apakah anda merasa diri anda lebih baik darinya? Dan apakah anda mengetahui rahasia yang telah Allah persiapkan untuk anda (prinsip kedua)? Ketahuilah, dihadapan Allah, belum tentu anda lebih baik dari calon anda tersebut, dan kemungkinan dialah jodoh terbaik yang dikirim oleh Allah sebagai jawaban atas doa anda.  

Dan ingatlah prinsip pertama, bahwa walaupun anda berusaha untuk menikah dengannya sekuat tenaga, tetapi Allah tidak berkehendak, maka pernikahan anda tidak akan pernah terjadi. Sebaliknya kalau memang jodoh, walaupun anda menolaknya, pasti akan menikah juga, cuman waktunya yang pasti akan terlambat dan tidak tahu sampai kapan, karena anda sudah terlanjur menolaknya (bahkan mungkin anda tidak akan pernah menikah, karena jodoh anda sudah anda tolak) – semoga tidak terjadi pada anda.

Jadi jangan dipikir pusing lagi dengan mencari berbagai alasan untuk menolak tawarannya, lebih baik terima dan jalani saja, biakan Allah yang mengatur segalanya, dan anda tinggal menjalani dengan menjadi baik.

Demikian, semoga tulisan ini bisa menjadi nasehat yang bermanfaat dan semoga teman-teman cepat menemukan jodoh dan menikah..., amin.

1 comment:

  1. Sungguh menyejukkan.
    Menikah merupakan penyempurna kekurangan, artikel yang menarik.

    ReplyDelete