Mengapa Tarip Angkutan Umum Selalu Naik Pada Waktu Dibutuhkan

Judul artikel ini terinspirasi ketika ngobrol-ngobrol bersama teman-teman, yang intinya menanyakan tentang mengapa (pemerintah selalu menaikkan) tarip angkutan umum selalu naik pada waktu dibutuhkan, dalam hal ini saya mencontohkan kenaikan tarif pada waktu menjelang dan pasca lebaran. Sebagai referensi awal yang saya ketahui, hanya negara ini yang menjalankan kebijakan meningkatkan tarif angkutan umum disaat masyarakat umum membutuhkan.

Penumpang Kereta Api
Latar belakang:
  • Menurut wikipedia, angkutan umum merupakan salah satu media transportasi yang digunakan masyarakat secara bersama-sama dengan membayar tarif.
  • Sesuai dengan Pasal 138 tentang "Kewajiban Penyediaan Angkutan Umum" UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pemerintah pusat, maupun pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk menjamin ketersediaan angkutan umum yang selamat, aman, nyaman, dan terjangkau dan lebih lanjut dalam pelaksanaannya pemerintah dapat bekerjasama dengan pihak swasta.
Berdasarkan kedua poin tersebut dan sesuai dengan topik tulisan, terlihat adanya gap:
  • Pertama: bahwa untuk menggunakan angkutan umum, masyarakat harus membayar tarif.
  • Kedua: bahwa pemerintah memiliki kewajiban untuk dapat menyediakan berbagai fasilitas angkutan umum yang terjangkau.
Dalam hal ini, warung kopi plus tidak memperluas masalah dengan berusaha menyoroti masalah keselamatan, keamanan dan kenyamanan angkutan umum, yang sangat relatif dan subyektif terhadap siapa yang menggunakan. Misalnya, tingkat kenyamanan angkutan umum menurut saya tidak sama dengan  tingkat kenyaman menurut anda. Sebagai masukan lain, bagi masyarakat yang mengerti mengenai hukum, masyarakat dapat menuntut pemerintah dalam hal ketidakmampuan pemerintah dalam menyediakan fasilitas angkutan umum yang memenuhi kriteria keselamatan, keamanan, dan kenyamanan. Tentu ini akan menjadi masalah yang tidak akan terselesaikan, mengapa, karena saya yakin yang membuat undang-undang ini memang sengaja tidak memberikan kriteria yag jelas mengenai makna keselamatan, keamanan dan kenyamanan yang dimaksud, sehingga masing-masing akan relatif terhadap penilaian masing-masing. (Maaf, saya bukan orang hukum)

Kita kembali kepada masalah, tarif angkutan umum dan kewajiban pemerintah untuk menyediakan fasilitas angkutan umum yang terjangkau. Dalam hal ini, saya mengartikan terjangkau sebagai tarif yang dapat dijangkau oleh masyarakat Indonesia yang tentunya juga sangat relatif terhadap kemampuan ekonomi masing-masing orang di Indonesia. Namun demikian saya tidak akan membahas kerelatifan ini, dan selanjutnya kita kembali kepada poko pertanyaan tentang: Mengapa (pemerintah selalu menaikkan) tarip angkutan umum selalu naik pada waktu menjelang lebaran dan paska lebaran ?

Saya memberikan tanda dalam kurung pada "pemerintah selalu menaikkan" disebabkan karena pada dasarnya yang menaikkan tarif adalah pihak swasta atau pengusaha karena efek meningkatnya demand dan terbatasnya supplay armada angkutan umum (hukum ekonomi - maaf saya juga bukan orang ekonomi). Namun demikian, untuk menertibkan kenaikan tarif angkutan umum masing-masing pengusaha angkutan umum yang berbeda-beda, pemerintah mengeluarkan peraturan tentang tarif angkutan umum. Sehingga, dalam hal ini saya menganggap bahwa kenaikan tarif angkutan umum tersebut resmi, legal dan merupakan kebijakan pemerintah.

Sampai disini, saya akan memberikan pertanyaan kepada anda untuk membuka suatu fenomena  keanehan khusunya mengenai kebijakan pemerintah dalam menaikkan tarif angkutan umum.

Pertanyaan pertama: Untuk siapa angkutan umum tersebut ditujukan atau dipergunakan? (Jawab: masyarakat yang tidak memiki kendaraan pribadi, atau masyarakat menengah kebawah, tapi tidak termasuk masyarakat miskin kebawah, karena mereka pasti tidak akan sanggup membeli tiket angkutan, sedang untuk makan pun mereka kekurangan)

Pertanyaan kedua: Apakah saat ini tarif angkutan umum sudah terjangkau? (Jawab: relatif terhadap anda, tapi menurut saya terjangkau, menurut mereka saya tidak tahu)

Pertanyaan ketiga: Kapan angkutan umum (misalnya kereta api) paling banyak digunakan oleh masyarakat umum? (Jawab: pada waktu liburan, atau cuti bersama, dalam hal ini bisa diartikan pada waktu lebaran)

Pertanyaan keempat: Apakah menurut anda rasional menaikkan tarif angkutan umum disaat "mereka-mereka" sedang membutuhkan, dan tentunya tanpa diimbangi dengan penambahan fasilitas guna menjamin kenyamanan angkutan? (Jawab: Menurut opini saya:
  • Menurut opini saya, pemerintah menaikkan tarif angkutan umum hanya beralasan karena pengusaha angkutan menaikkan tarif yang disebabkan karena hukum ekonomi, yaitu permintaan semakin meningkat maka tarif semakin meningkat, mengingat ketersediaan angkutan terbatas. Sehingga disini saya beranggapan, pemerintah lebih mengakomodir kepentingan pengusaha angkutan dari pada kepentingan masyarakat umum/publik. Pemerintah hanya mengatur keseragaman tarif angkutan umum antar pengusaha, dan pada dasarnya tarip tetap meningkat.
  • Menurut opini saya, kalau pemerintah lebih condong kepada masyarakat umum pengguna angkutan umum, maka pemerintah akan mengambil kebijakan untuk menekan pengusaha untuk tidak menaikkan tarif angkutan umum. (Hal ini didasari atas tujuan operasi pasar kebutuhan bahan pokok, pemerintah melakukan operasi pasar guna menjamin kesetabilan dan keterjangkauan kebutuhan bahan pokok, dan tidak sebaliknya pemerintah memeberikan legalitas atas kenaikan harga kebutuhan bahan pokok secara resmi). Lebih parahnya, kenaikan tarif angkutan umum ini lebih-lebih dilakukan pada waktu masyarakat sangat membutuhkan angkutan umum.
  • Menurut opini saya, Pemerintah seharusnya tahu, bahwa hanya pada waktu cuti bersamalah masyarakat "buruh/karyawan/pegawai negeri/sawasta" bisa mudik kekampung halaman untuk bertemu keluarga. Namun demikian sugguh ironis, disaat ada waktu untuk mudik, tarif angkutan umum meningkat bahkan sampai 200%. Sehingga saya ingin bertanya kepada pemerintah, dimana letak pelayananmu kepada kami masyarakat miskin? Bukannya seharusnya pemerintah memfasilitasi masyarakat ini, memudahkan mereka untuk mencapai tujuan mereka  malahan pemerintah malah menghambat mereka dengan mengambil keuntungan sepihak untuk pengusaha angkutan umum, parahnya ini berlaku juga untuk Angkutan Umum Kereta Api yang merupakan angkutan masal bagi masyarakat menengah kebawah.)
Pertanyaan kelima: Apakah kita bisa menuntut pemerintah karena pemerintah tidak bisa melaksanakan kewajiban penyediaan angkutan umum yang terjangkau sesuai dengan janji di UU Nomor 22 Tahun 2009, dan sebaliknya pemerintah malah memberikan legalitas kenaikan harga? (Jawab: Bisa!!!, logikanya tarif yang berlaku saat ini saja belum bisa "terjangkau" secara 100%, apalagi kalau tarif dinaikkan ketika dibutuhkan, lebih lanjut bukankah hal ini menyebabkan hak masyarakat untuk menerima pelayanan angkutan umum menjadi terganggu)

Demikian, semoga kedepan pemerintah dapat merubah pola pikir atau dasar pemikirannya tentang "Bagaimana agar tarif angkutan umum tidak naik disaat masyarakat membutuhkan secara masal?" Kurang lebihnya saya minta maaf, dan lebih lanjut saya mohon kritikan dari pembaca.

Salam

warung kopi plus

No comments:

Post a Comment