Cara Cepat RAPI dalam Menyebarkan Informasi Kepada Masyarakat

Setiap kali terjadi gempa, berapa pun skalanya, relawan komunikasi yang berhimpun di organisasi Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) punya cara tersendiri menyikapinya.

Ketika gempa 7,1 SR berpotensi tsunami mengguncang Aceh pada Rabu (11 Januari 2012) dini hari pukul 01.36 WIB, kepanikan juga terjadi di Kota Banda Aceh, terutama di kawasan pesisir. Trauma tsunami 2004 masih begitu membekas. Relawan RAPI ikut berbaur dalam kepanikan itu.

Logo RAPI Aceh
Misi utama relawan RAPI adalah menjadi penyebar arahan sambil mengkomunikasikan apa saja yang didapat dari sumber-sumber resmi--utamanya BMKG dan Badan Penanggulangan Bencana--terkait dengan kekuatan gempa dan ada tidaknya potensi tsunami.

Dengan modal HT (handy talky) atau stasiun bergerak (mobile) dan tentu saja semangat, relawan RAPI terus berbaur bersama masyarakat yang sedang panik. Volume radio diperbesar agar masyarakat bisa mendengarkan secara realtime komunikasi antara relawan lapangan dengan posko RAPI yang mengendalikan komunikasi darurat (emergency).

Tugas pengendali
Bagi pengendali komunikasi emergency RAPI, tugas utamanya sesaat gempa terjadi adalah masuk ke jalur frekuensi darurat (kalau di Banda Aceh menggunakan frekuensi pancar ulang atau repeater 143.575 MHz) dengan isyarat 10-50 dan 10-33. Ini merupakan ten-code di RAPI sebagai tanda agar menghentikan komunikasi normal karena situasi darurat.

Selanjutnya pengendali melakukan apel frekuensi dengan memanggil anggota tim Satgas Komunikasi untuk diketahui titik lokasi masing-masing. Kalau untuk bencana gempa, biasanya diprioritaskan memanggil anggota satgas di pesisir pantai. Ini bertujuan agar diperoleh laporan tentang kondisi air laut dan tanda-tanda alam lainnya.

“Setiap gempa terjadi, yang paling ingin diketahui masyarakat adalah apakah air laut surut atau tidak. Relawan RAPI di pesisir bisa menjawab langsung pertanyaan dari pusat pengendali dan jawaban itu didengar oleh masyarakat yang sedang panik yang berbaur dengan relawan RAPI di lapangan,” kata Ketua RAPI Kota Banda Aceh, Nasir Nurdin (JZ01BNN).

Selain mengatur sumber daya relawan di lapangan, pengendali komunikasi darurat juga membuka link dengan Badan Penanggulangan Bencana, baik di kabupaten/kota setempat maupun dengan provinsi. Juga menghubungi relawan RAPI di berbagai daerah lainnya.

Berbagai data yang dihimpun itu, apakah kekuatan gempa, lokasi, potensi tsunami atau tidak, bahkan perlu tidaknya evakuasi akan diteruskan ke relawan di lapangan. Masyarakat yang sedang panik bisa mendengarkan langsung lalulintas informasi yang bersifat terbuka itu. Mobil unit komunikasi RAPI juga ikut diturunkan merelay lalulintas komunikasi antara relawan lapangan dengan pusat pengandali yang bisa didengarkan oleh masyarakat melalui sound system mobil unit yang terus berkeliling ke pusat-pusat konsentrasi massa.

Relawan RAPI yang tidak terlibat langsung ke lapangan, juga berperan mengeluarkan peralatan komunikasinya ke depan rumah, kemudian membuka volume keras-keras agar bisa didengarkan secara sempurna oleh masyarakat yang sudah dalam posisi siaga.

Biasanya, masyarakat langsung mengurungkan niat meninggalkan rumah manakala dari relawan RAPI yang berada di pesisir pantai, misalnya Lampuuk, Lhoknga, Ulee Lheue, Krueng Raya, Peukan Bada, menginformasikan air laut normal dan tak terlihat tanda-tanda alam yang bisa memicu tsunami. Masyarakat semakin tenang ketika pengendali mengumumkan perubahan status yang dikeluarkan BMKG bahwa potensi tsunami dicabut dan komunikasi RAPI pun kembali ke posisi normal. Begitulah.



Sumber:
Misran Asri, "Cara RAPI Meredam Panik", http://aceh.tribunnews.com/2012/01/12/cara-rapi-meredam-panik, diakses tanggal 12 Januari 2012, jam 17:09.

No comments:

Post a Comment