Merokok itu dilarang karena faktor LAIN-LAIN

Merokok itu dilarang karena faktor LAIN-LAIN bukan semata-mata karena kesehatan.
Kesepakatan hasil penelitian dibuat, bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan.
Dengan demikian maka pemerintah wajib memberi peringatan kepada masyarakatnya karena pemerintah wajib melindungi masyarakatnya. Apabila tidak dilakukan, maka pemerintah akan dianggap lalai dan bisa dipidana.

Logika terbaliknya sebagai pembuktian:

1. Kalau berbahaya kenapa pabriknya tidak ditutup? 
Apakah tidak ditutup karena alasan tenaga kerja?
Berarti rokok tidak cukup berbahaya apabila dibandingkan dengan pengangguran (menganggur sementara waktu, tidak mungkin menganggur terus-menerus pasca pabrik roko ditutup). 
Lihatlah bagaimana pemerintah dalam menangani flu burung pada ayam. Membakar seluruh ayam di lingkungan yang terkena flu burung. Puluhan ribu ayam dimusnahkan. Bayangkan kalau satu ekor ayam seharga rata-rata Rp.25.000, untuk ayam petelur seharga Rp.50.000?
Apakah pemerintah tidak melihat kerugian peternak?dan jumlah pengangguran (sementara) yang ditimbulkan?
Ya..., pemerintah telah mempertimbangkan, namun bahaya atau dampak negatifnya lebih besar apabila lingkungan ayam yang terjangkit flu burung dibiarkan hidup.

Seperti halnya dengan dampak minuman keras, kenapa tidak menutup pabriknya? bukankah sudah banyak korban akibat miras, baik secara langsung (peminum) maupun tidak langsung (korban ditabrak mobil pemabuk).
2. Merokok dapat menyebabkan "sakit..."
Di Rumah sakit (poli paru), banyak dijumpai orang-orang yang bebas dari rokok namun terkena penyakit yang diindikasikan sebagai penyebab dari merokok, seperti paru-paru, batuk/tbc, dll...
(Bebas dari roko disini maksudnya anak-anak atau ibu-ibu yang orang tua atau suaminya dan lingkungannya tidak merokok).

Saya juga sering bertemu dengan orang-orang tua, usia diatas 70 tahun yang tetap sehat walaupun mereka merokok, bahkan rokok mereka rokok asli tembakau lintingan sendiri yang katanya merokok tanpa filter itu sangat berbahaya. Kebanyakan dari mereka pekerja keras, dan tetap sehat walau sesekali batuk. Bagaimana ilmu kedokteran menjawab fenomena ini?

ya..., saya sadar bahwa roko tersebut mengandung racun ini dan itu yang berbahaya bagi kesehatan, akan tetapi point pentingnya kembali ke nomor 1, sehingga pemerintah tidak dengan tegas menutup pabrik rokok.

3. Merokok dapat menyebabkan kemandulan.
Banyak orang tidak merokok yang juga tidak punya anak, sebaliknya banyak juga orang merokok yang punya anak. Sehingga peringatan "Merokok dapat menyebabkan kemandulan" tidak benar 100%, bisa jadi 50% pun belum tentu.
Alhamdulillah, saya merokok 9 tahun (sebelum menikah dan setelah menikah) dan saya sudah memiliki 2 orang anak. Selain dari saya masih banyak para perokok yang telah memiliki beberapa orang anak.

4. Merokok adalah pemborosan. 
Bayangkan kalau tidak merokok kita sudah bisa beli ini-itu (misalnya motor) dan lain-lain. Saya pikir logika tersebut benar namun dalam realitasnya kurang tepat. Buktinya banyak orang yang tidak merokok yang tetap tidak bisa beli motor atau pun naik haji. Analogi yang lebih tepat kalau kita bisa menabung, maka kita bisa beli ini-itu, jadi asumsinya uang untuk membeli rokok kita tabung.
Ketahuilah, Bagi seorang perokok aktif, merokok itu sangat nikmat, dengan merokok mereka bisa mengeluarkan ide-ide cemerlang dan sebagainya. Bahkan tak jarang dengan saling meminjamkan korek saja kita bisa berkenalan dan mencairkan suasana. Cairnya komunikasi tersebut sangat besar manfaatnya, bagi seorang makelar/selesman sehingga barang dagangannya dapat terjual.
Nah dengan alasan diatas apakah merokok masih dianggap sebagai pemborosan? Hal ini terjadi karena kita menilai (merokok itu sebagai pemborosan) dari kacamata non perokok.

Analoginya, Bagaimana dengan orang yang penghasilannya pas-pas'an, tetapi punya mobil (namun biasa kekantor naik sepeda motor/angkot) melihat orang yang "selevelnya" ke kantor naik mobil. Kemungkinan dia akan bilang "Ke kantor naik mobil itu pemborosan", lebih baik naik motor dan uang beli bensinnya bisa untuk beli ini dan itu. Dia tidak mengetahui dan memahami bahwa ke kantor naik mobil itu nyaman, aman, bebas dari hujan, panas, debu dan lain-lain.
Apakah dengan alasan tersebut (kekantor naik mobil) masih juga disebut pemborosan? bagaimana kalau kena debu kemudian tumbuh jerawat dan harus ke dokter kulit?bagaimana ketika harus pulang malam hari dan hujan?

Bagi saya, pemborosan itu apabila kita merokok baru satu atau dua hisapan kemudian kita buang rokok tersebut (karena melihat bos kita lewat), kemudian kita menyalakan kembali rokok yang baru.

5. Dilarang merokok di ruang publik.
Kalau bau asap rokok mengganggu saya sangat setuju lebih-lebih kalau lagi ngomong dengan orang yang merokok. Akan tetapi  hal ini berlaku bagi orang yang tidak merokok, sebaliknya bagi perokok hal ini tidak mengganggu (alasan subyektif bagi non perokok).
Logikanya, apabila ada orang yang tidak suka makan durian, bahkan mencium baunya saja dia pusing. Kemudian orang tersebut naik angkutan dan didalam angkutan ada durian. Kira-kira bagaimana tanggapan orang tersebut? Bau Durian sangat mengganggu dan orang yang membawa durian kedalam angkutan ini telah melanggar hak-hak publik.
Nah kedepan akan ada stiker "dilarang membawa durian di angkutan umum", 
Nah bagaimana dengan orang yang muntah di dalam angkutan?, mengganggu bukan?, bahkan ada sebagian orang jadi mual ketika mencium bau, melihat atau mendengar suara orang muntah di dalam angkutan. Nah..., bakal ada setiker "Dilarang Muntah didalam Angkutan"

Namun apakah demikian yang terjadi?
Semua itu terjadi pada rokok karena telah disepakati bersama atau hasil "konsesi" bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan. Masyarakat telah meyakini sepenuhnya dan telah menerima konsesi tersebut secara berjamaah.
Nah pertanyaan cerdasanya, apa dibalik konsesi tersebut? Apakah ingin menekan Indonesia atau negara-negara lain penghasil tembakau, biasanya negara berkembang. Dan kita tahu, pajak roko sebagai penyumbang penghasilan yang besar di sektor non migas. Apakah konsesi lahir agar negara berkembang tetap berkembang?sehingga terus bergantung dengan negara maju? 
Saya menulis ini dari hasil pengalaman pribadi, pengamatan, cerita dari kawan dan berusaha seobyektif mungkin dalam menganalogikan masalah.
Saya merokok sejak semester 2 kuliah S1 (tahun 2000'an) dan Alhamdulillah sejak 21 April 2009 hingga sekarang saya telah berhenti merokok. 9 tahun meroko tersebut saya gunakan sebagai sumber pengalaman pribadi sebagai seorang perokok.
Saat ini saya banyak berteman dengan para perokok, sehingga dapat dikatakan saya sangat terganggu dan sedih ketika menjadi seorang perokok pasif.
Saya berdoa semoga saya sekeluarga selalu sehat dan tidak terkena penyakit ang ditimbulkan oleh rokok dan sejenisnya. Sehingga logika terbalik pada nomor 2 tidak terjadi pada saya dan keluarga..., aamiin, dan semoga tulisan ini bermanfaat.

Nah..., kesimpulannya, menurut pembaca merokok itu dilarang karena apa ya?

No comments:

Post a Comment